Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 17 September 2016


MENGASAH KEPEDULIAN

Tidak  ada bangunan tanpa pondasi dan tiang. Demikian pun kepedulian kita terhadap sesama makhluk ciptaan Allah SWT. Dan  Terlebih-lebih terhadap kepada manusia itu sendiri. Kepeduliaan  menurut KBBI “ sangat peduli ,sikap mengidahkan ( memperhatinkan )”.

  Jadi kepedulian adalah bagaimana manusia memperhatikan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya. Entah itu permasalahan-permasalah lingkungan maupun permasalahan yang berkaitan dengan  manusia itu sendiri.

“ barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka”( HR..Hakim ).

Dari hadist Rasulullah SAW, di atas  sangat jelas bahwasanya betapa pentingya mengasah kepedulian kita kepada permasalahan kaum muslimin. Sehinggah akhir hadits di atas ada penekanan bahwasanya” barang siapa tidak perhatian kepada kaum muslimin maka dia  bukan golongan mereka”.

Berbicara masalah iman tidak bisa di lepaskan dari aspek kepudulian. Sebagimana dalam hadits “ tidak beriman seseorang diantara kalian sehinggah ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”( HR.Bukhari dan Muslim ).

Jadi pelajaran yang bisa diambil dari hadits di atas adalah seorang mu’min yang lainnya bagaikan satu  jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri. Contoh kepedulian terhadap sesama adalah meringakan beban permasalahanya atau menjenguk saudara-saudara kita ketika sakit sambil mendo’a agar cepat sembuh.

Dan sudah semestinya, iman di hati kian mengujamkan cara berpikir seperti para ulama Sufi  tersebut. Di sinilah pentingnya mengasah kepedulian kita terhadap sesama.iman di hati akan kurang berfungsi atau tidak sempurna jika tidak ada peduli terhadap sesama.*Kardin Al-Mar’uf Amin.





































rehat

PENJAJAHAN DALAM KEMERDEKAAN

Tujuh belas agustus merupakan hari besar dan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari dimana Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya untuk pertama kali setelah sekian lama dijajah oleh bangsa asing kurang lebih 350 tahun lamanya. Dimana bangsa Indonesia harus bersabar dari penindasan-penindasan yang terjadi di masa tersebut.

Namun, sekarang Indonesia dapat bernapas lumayan lega. Karena zaman penjajahan yang kejam telah berlalu berkat perjuangan keras para pahlawan Indonesia yang terus berusaha menyelamatkan bumi Indonesia dari tangan kotor para penjajah dan juga pertolangan dan karunia tuhan juga.
Namun, apakah Indonesia memang telah terbebas dari penjajahan?

Fakta
Jika kita lihat dan memperhatikan sekitar, mungkin kita tak menemukan para pnjajah yang selalu menindas rakyat Indonesia padaa zaman dahulu kala. Namun, tanpa kita sadari sebenarnya bangsa Indonesia belumlah sepenuhnya merasakan kemerdekaan yang sejati.

Kita dapat jumpai di sekeliling kita. Kemiskinan, kebodohan, dan krisis moral telah melanda Indonesia. Ini bukanlah penyakit baru, namun ini merupakan penyakit lama yang telah lama bersarang di negeri ini dan harus segera diberaantas.

Saat ini perekonimian Indonesia telah kacau. Menurut Liputan6.com, nilai tukar rupiah ke dollar kambali tertekan ke level 13.133 per dollar AS.(12/8) Namun itu masih dikatakan normal karena nilai tukar rupah dulu hampir mencapai 15.000 per dllar As. Apabila kita membiarkan hal seperti ini, maka nilai tukar rupiah akan semakin erkurang.

Selain masalah ekonomi, Indonesia juga sedang dilanda dengan masalah serius yang lain. Yaitu kebodohan dan moral. Nilai moral bangsa Indonesia semakin buruk. Salah satunya akibat pornografi yang semakin merajalela di mayarakat. Hal ini sangat berbahaya agi generasi muda Indonesia. Bagaimana jadinya Indonesi jika generasi mudanya telah ternodai dengan pornografi?.
Masihkan kita mau mengakui jika Indonesia telah benar-benar merdeka?, Tidak!!!

Membuka Mata
Sadarkanlah diri kita jika kita belumlah sepenuhnya merdeka. Kita bisa saja merasakan kemerdekaan yang kita rasakan tanpa adanya penjajah dari luar. Namun kita juga mesti tahu jika masih ada penjajah berbahaya yang lain.

Kita sebagai masyrakat Indonesia harus peduli terhadap tanah air kita sendiri, tanah tempat kita dilahirkan dan juga tempat kita dibesarkan. Jangan kita sia-sia kan pengorbanan para pahlawan yang telah gugur di medan perang untuk membela bangsa kita ini.

Untuk generasi muda bangsa Indonesia, dimana sebagai penopang Indonesia, yang akan melanjutkan perjuangn generasi tua harus siap menghadapi bahaya yang akan mengepung di hadapan nanti.
Akankah kita sebagai generasi muda hanya berdiam diri saja melihat kenyataan yang pahit ini?/Ashlih


the trip

The Trip of SAFARI DAKWAH

Part 1
malam sebelum keberangkatan, para mahasiswa melakukan pelepasan dengan beberapa
ustad 

Pukul dua dini hari, dimana hampir semua makhluk masih dalam naungan mimpi. Namun itu semua tak terlihat pada suasana dalam asrama mahasiswa STAI Luqman al Hakim Surabaya, khususnya semester lima. Terlihat sekali kesibukan yang sedang terjadi. Mereka sedang mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk safari dakwah nanti.
mahasiswa melakukan foto bersama selepas upacara pelepasan

Safari dakwah merupakan kegiatan rutin bagi semester lima mahasiswa STAIL yang dilakukan menjelang hari raya idul adha. Dimana tujuan safari dakwaah itu sendiri diantaranya ialah untuk membantu masyarakat dalam idul qurban nanti. Biasanya mahasiswa akan membantu masyarakat dalam proses berqurban sekaligus melakukan bakti sosial di tempat safari dakwah yang telah ditentukan. Dalam kegiatan tersebut, akan dibantu oleh BMH (Baitul Mall Hidayatullah) dengan menyumbang hewan qurban berupa kambing.
mahasiswa sedang berada di dalam bis yang segera berangkat

Hari itu bertepatan hari sabtu 10 september 2016 atau 8 dzulhijjah 1437 Hijriah, mahasiswa semester lima STAI Luqman al Hakim akan melaksanakan kegiatan safari dakwah. Dan safari dakwah kali ini ialah berlokasi di daerah Tengger . lebih tepatnya desa Argosari, Lumajang, Jawa Timur. Dengan mengambil tema Hidupkan Semangat Qurban di Desa Tengger. Safari dakwah kali ini direncanakan akan memakan waktu sekitar satu minggu.
beberapa mahasiswa sedang berfoto sebelum keberangkatan

Berbeda dengan safari dakwah semester lima tahun lalu yang berlokasi di pulau Talango, Madura. Kali ini safari dakwah dilakukan di daerah pegunungan yang bersuhu ekstrim(lebay). Dimana di daerah Tengger yang berlokasi dekat dengan gunung Bromo dan Semeru ini mayoritas dihuni oleh penganut ajaran Hindu. Dan mereka adalah suku asli Tengger.
rapat sebelum keberangkatan

Di Tengger terdapat alumni STAIL yang telah ditugaskan untuk berdakwah disana. Tersebutlah ustad Afrizal yang merupakan alumni STAIL yang telah lulus tahun 2014 silam dan sekarang sedang ditugaskan di daerah tengger bersama dengan ustad Bukhori yang merupakan alumni STAIL juga.


Pemberangkatan direncanakan pukul tiga dini hari dengan menggunakan bus yang telah dipesan sebelumnya. Harapannya semoga kegiatan kali ini menjadi ladang dakwah dan bernilai ibadah di mata Allah. Semoga kegiatan kali ini sukses dan sesuai dengan agenda yang telah direncanakan. Amiiin/elSiddiq.

Sabtu, 30 April 2016

pengalaman pribadi



DENDAM SEEKOR ANJING


Oleh: Ashlih Maulana S.

Balas dendam. Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan itu semua. Balas dendam. Merupakan sebuah perasaan ingin membalas perbuatan orang lain yang biasanya merujuk kepada hal-hal yang buruk kepada kita. Dimana kita menginginkan dia mendapatkan hal yang setimpal denag apa yang telah dia lakukan padaa kita, ataau bahkaan lebih. perasaan yang berpotensi dimilki oleh semua orang bahkan hewan sekalipun. Hewan?, ya hewan juga (menurut saya) berpotensi untuk membalas dendam.
 Dengan adanya ceritaku ini itu akan membuka mata kita semua untuk saling menghormati dan jangan mengusik ketenangan orang lain bahkan jugaa hewan. Karena hewan juga berhak untuk mendapaatkan ketenangan dan mereka juga berhak memperjuangkannya. Namaku Ashlih, and this is my story...
****
Aku tinggal di Bali selama tiga setengah tahun karena ayahku bekerja di sana. Aku mulai pindah ke Bali saat aku duduk dibangku kelas dua SD semester akhir. Bisa dibilang semester pertama aku bersekolah di desaku namun semester kedua aku pindah ke Bali.
Di tempatku tinggal di Bali ada tempat untukm aku mengaji. Yaitu TPA kecil-kecilan yang bermarkas di rumah seorang ustad yang agak jauh dari rumahku. Aku bersama teman-temanku berangkat mengaji bersama tiap sore setelah asar. Dari mulai senin hingga hari kamis. Dan setiap kali kami berangkat mengaji, kami selalu melewati rumah orang kaya yang di dalamnya ada anjing yang bisa dibilang galak. Dan kaminsemua tergoda untuk mengganggu anjing tersebut hingga anjing tersebut menyalak garang kepada kami. Yah anjing tersebut pastinya meraasa terganggu akan perlakukan kami kepadanya.
Intinya, setiap kami melewati rumah tersebut untuk mengaji ataupun untuk haal lain sekalipun, kami tidak pernah absen untuk mengganggu anjing tersebut. Bisa dibilang kegiatan tersebut merupakan kegiatan harian kami yang sulit dihilangkan. Atau itu telah menjadi kebutuhan kami secara tidaak sadar. Kami sering mengganggunya dengan ranting atau melemparinya dengan batu kerikil yang kecil. Kami kasihan jika melemparnya dengan batu yang besar. Kami kan masih punya belas kasih J
Anjing tersebut lumayan besar menurutku karena waktu itu tubuhku masih berupa tubuh anak kelas 3 SD sehingga aku melihat anjing itu bertubuh lumayan besar dan berbulu putih. Aku tidak begitu tahu apa jenisnya naamun jika dilihat lumayan seram juga. Ditambah lagi didukung dengan galaknya anjing tersebut saat menyalak. Hal itu semakin mendukung image nya sebagai anjing yang galak.
Pada suatu hari...
“ayo lempar ranting itu kearahnya!”
“rasakan itu anjing jelek!”
Guk!guk!guk!
“diam anjing bodoh, suaramu jelek sekali!”
Grrrrr, guk!guk!guk!
Saat itu aku dan teman-temanku mengganggunya lagi. Entah kemana san pemilik rumah kenapa tidak muncul-muncul juga padahal anjingnya sedang menyalak keras sekali.
“sudah ah, aku mau pulang. Ayo kita pulang, nanti pemiliknya keluar.” Ucap salah seorang temanku.
“jangan ah! Aku belum puas nih. Kalau kamu mau pulang pulang aja duluan.” Kataku.
“ya sudah kalau begitu, kami duluan.” Uacap mereka kepadaku.
Aku terus mengangganggu anjing tersebut lumayan lama. Teman-temanku yang lain telah pergi lebih dulu  meninggalkanku didepan rumah megah yang ada anjing galaknya ini. Lagi pula sepertinya aku juga terlalu lama mengganggu anjing ini. Aku ternyata sads juga.
Karena terlalu lelah aku pun meninggalkan anjing tersebut begitu saja. Yang lagi pula dia juga membutuhkan waktu istirahat untuk bernafas selsgi aku memikirkan keusilan lain yang akan aku rencanakan keesokan harinya. Tanpa kusadari bahwa besok adalah hari bersejarah bagiku yang sulit tuk kulupakan.
***
Besoknya hari Minggu...
“bagaimana?, apakah kalian sudah merencanakan hal apa yang akan kita lakukan kepda anjing itu nanti?.” Kataku kepada teman-temanku.
“tenang aku sudah bawa ini dari rumah.” Kata temanku seraya memperlihatkan ketapelnya kepadaku.
Kami bertiga, aku dan kedua temanku berencana untuk mengganggu anjing itu lagi. kami terlalu asyik bersenda gurau di jalan tanpa memperdulikan kalau ada bahaya yang menanti di depan.
Saat sudah dekat rumah megah tersebut, kami langsung kaget, karena anjing tersebut dalaam kedaan tidak terikat dan ssedang duduk di luar gerbang rumah. Sontak saja aku dan kedua temanku berhenti mendadak karena ketakutan. Kami mundur selaangkah demi selangkah dan...
Kraaak....
Tak sengaja aku mengijak ranting patah. Kami melihat anjing tersebut sadar dan menoleh ke arah kami. Kami mulai berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Anjing itu mulai mengejar kearah kami. Aku sendiri yang notabene nya berbadan agak gendut pastinya tertinggal di belakang.
Saat anjing itu sudah disampingku, anjing itu langsung menggigit pantatku setelah itu berhenti mengejar dan berbalik arah. Aku yang tahu kalau anjing itu sudah berhenti mengejar pun ikut berhenti juga. Aku merasakan sesuatu sedang mengaalir di pahaku. Ternyata darah mengalir lumayan deras dari pantatku.
Aku meminta tolong temanku untuk memeriksa kedalam celanaku. Ternyata pantat sebelah kiriku berlubang sekitar dua senti akibat gigitan anjing tersebut. Namun anehnya aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku langsung menangis melihat hal itu. Aku menganis bukan karena rasa saakit yang kurasakan. Lagi pula aku tidak meraasakan sakit apa-apa. Aku menangis karena kaget saja.
Setelah itu aku langsung diantar pulang oleh teman-temanku. Saat kedua orang tuaku tahu, aku langsung dibawa kerumah sakit untuk dijahit. Saat dipompa oleh alat, aku melihat busa atau buih yang keluar dari pantatku banyak sekali. Mungkin jika tak segera dikelurkan, aku mungkin terinfeksi rabies oleh anjing tersebut. Akupun izin sekolah selama tiga minggu sebagai proses penyembuhan. Bahkan bekas jahitan itu masih ada.
Setelah itu aku pun jadi trauma berdekataan dengan anjing. Setiap kali ada anjing di dekatku aku pun  langsung menghindar karena teringat kejadian itu.

kisah



TENGGELAMNYA PENGUASA YANG DURJANA





 Oleh: Ashlih MS.




Ramses II adalah Fir’aun yang memerintah pada zaman nabi Musa as. Dimana sifat Fir’aun ini sangatlah sombong. Sangat bebeda sekali dengan Fir’aun yang memerintah sebelumnya Raja Akhenaten, dimana raja yang satu ini masih memegang teguh ajaran nabi Yusuf as. Yang dulu pernah memerintah Mesir. Fir’aun yang memerintah pada zaman nabi Musa as. Adalah Fir’aun yang menganggap dirinya sebagai tuhan dan harus disembah oleh para penduduknya. Fir,aun mengumpulkan pembesar-pembesar dan kaumnya seraya berkata “akulah tuhanmu yang palig tinggi” (an-Nazi’at: 24).
Pada suatu hari Fir’aun diberitahukan oleh para peramal kepercayaannya tentang mimpi yang dia alami di suatu malam. Para peramalnya memberitahukan bahwa akan ada seorang bayi yang lahir adri suku Apiru yang akan menjauhkannya dari kursi singgasananya. Itulah awal kegilaan Fir’aun untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari suku Apiru. Dan pada saat itu nabi Musa lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Yokabed. Namun bayi Musa itu selamat dari ancaman pembunuhan Fir’aun yang keji karena sang ibu mengapungkan bayi Musa tersebut di sungai dan sang kakak mengikutinya. Dan pada akhirnya bayi Musa yang masih merah itu pun sampai di sungai di dekat istana kerajaan dan diketemukan oleh istri Fir’aun yang bernama Asiyah.
Raja Fir’aun awalnya menolak permintaan sang istri yang meminta untuk menjadikan bayi Musa tersebut sebagai anak angkat, namun sang raja tak kuasa menolak permintaan sang istri tercinta dan pada akhirnya sang raja pun mengabulkan permohonan sang istri untuk mengangkat Musa sebagai anak.
Namun ambisi Fir’aun untuk terus membunuh setiap bayi yang lahir dari kalangan Apiru masih terus berlanjut. Hingga setelah sang nabi telah beranjak dewasa dan pada akhirnya sang raja tahu jika bayi yang dia angkat menjadi anak lah sang musuh yang akan menggulingkan tahtanya nanti. Akibat suatu kejadian dimana saat nabi Musa berjalan-jalan bertemu dengan orang yang berkelahi dimana satu sisi adalah suku Apiru dan suku yang lain adalah suku dari Fir’aun. Namun nabi Musa lebih membela suku Apiru dan memukul suku dari Fir’aun tersebut hingga tewas. Saat itu suku Apiru(suku tempat dimana nabi Musa dilahirkan) adalah suku yang direndahkan derajatnya.
Fir’aun yang sombong dan keji itu mengusir nabi Musa dari istana dan berniat mebunuhnya karena nabi Musa as menentangnya dan tidak menganggapnya sebagai tuhan. Raja Fir’aun mengejar nabi Musa dan pengikutnya hingga sampai di laut merah. Dan dengan pertelongan Allah, nabi Musa dan pengikutnya dapat tiba di seberng laut merah karena nabi Musa membelah laut merah agar dapat dilalui. Namun Fir’aun dan pengikutnya  tenggelam di dasar laut karena belum sempat sampai di seberang laut, air yang terbelah tersebut menutup kembali hingga menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya.
Itulah kisah Fir’aun yang sombong dan mengaggap dirinya sebagai tuhan. Kesombongan adalah jubah kebesaran Allah yang haram dikenakan makhluk selainnya, dan Allah akan murka apabila ada yang berusaha merebut jubah kebesarannya.[]

Rabu, 02 Maret 2016

REMAJA

BAHASA BAKU VS BAHASA ALAY
Oleh: Ashlih Maulana S.














“Guys, loe kemaren dari mana?, gue nyariin loe tau.”
“Ih! Gue jijay banget maa loe.”
Kita pasti pernah mendengar potongan kalimat di atas, terutama para kawula muda. Ya, percakapan seperti itulah yang sering terlontar di bibir remaja-remaja kita saat ini. Yang disebut sebagai “Bahasa Gaul” atau “Bahasa Alay”.
Belakangan ini fenomena bahasa alay semakin menjadi-jadi di kalangan remaja muda saat ini. Bahasa alay sendiri memiliki arti yang beragam. Mulai dari “anak lebay”, “anak layangan”, “anak kelayapan” dll.
Bahasa alay sekarang sudah menjadi trend bagi remaja di Indonesia. Apalagi didukung dengan adanya situs jejaring sosial yang semakin menjamur di dumay (dunia maya) semisal facebook dan twitter yang sangat terkenal. Para remaja menggunakan bahasa alay yang mereka miliki kepada sesama teman mereka. Seolah-olah sudah mendarah daging di sanubari mereka. Dampaknya, bahasa Indonesia baku yang notabene-nya sebagai bahasa nasional dan pemersatu negara kita semakin tergeser kedudukannya.
Bagi para remaja yang sering menggunakan bahasa gaul, hal tersebut memmiliki makna tersendiri. Kenapa?, karena bagi mereka itu merupakan identitas mereka. Menurut mereka seorang remaja akan dianggap gaul apabila mereka menggunakan bahasa alay dalam setiap percakapan yang mereka lakukan. Dan sebaliknya seseorang akan dianggap norak atau ketinggalan zaman apabila tidak menggunakan bahasa alay. Sehingga kedudukan bahasa Indonesia baku tergeser dengan bahasa yang tidak jelas EYD-nya itu. Apabila hal ini terus dibiarkan, maka kecintaan remaja terhadap bahasa Indonesia akaan berkurang. Bahkan yang lebih menakutkan lagi, mungkin akan hilang sama sekali.
Dalam dunia remaja saat ini telah muncul istilah prokem. Prokem merupakan sebuah istilah yang mennunjuk pada bahasa yang dimiliki oleh sebuah kumpulan remaja tertentu atau yang lebih dikenal dengan istilah geng. Jadi hanya geng tersebut yang mengetahui arti bahasa itu. Mereeka memiliki kode mereka masing-masing.
Selain merubah bahasa secara lisan, bahasa alay juga mempengaruhi tata cara penulisan suatu kalimat. Para remaja biasanya memasukkan lambang atau simbol-simbol tertentu yang mewakili huruf-huruf yang mereka tulis pada kalimat yang mereka buat. Contoh, “q ska 5 qm, qm 5u g jd pcr q”, yang artinya adalah, ‘aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?.”
Selain agar lebih menarik, mereka juga sengaja menyingkat kata-kata tersebut agar lebih hemat pengetikannya. Kebanyakan karena mereka malas untuk menulis kata-kata yang panjang dan mereka merasa itu tidak simpel.
Terlalu sering menggunakan bahasa alay juga mempengaruhi seseorang untuk membuat suatu karya ilmiah semisal makalah. Karena terlalu sering menggunakan bahasa alay, mereka jadi kesulitan untuk menyusun kata-kata baku dalam karya ilmiah mereka. Padahal makalah harus menggunakan bahasa baku untuk pembuatannya. Dan, menurut kabar yang diperoleh dari internet, belum ada seorang pun yang mendapat nilai sempurna dalam UN (Ujian Nasional) dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Namun, disamping memiliki dampak negatif penggunan bahasa alay juga memiliki dampak positif. Para remaja bisa berkreatifitas dan berinovasi dalam berbahasa. Namun tentu sajaharus dilkukan dalam tempat, situasi dan media yang sesuai.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah tanamkan pada diri kita masing-masing untuk lebih mencintai bahasa Indonesia baku. Biasakan untuk selalu menggunakan bahasa baku dalam percakapan sehari-hari. Sering-seringlah membaca artikel yang menggunakan bahasa baku. Untuk para guru bahasa Indonesia di seluruh sekolah di Indonesia, sebaiknya lebih menekankan lagi bagaimana cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Satu lagi yang tidak boleh terlupakan, sering-seringlah membaca KBBI, karena mungkin saja ada banyak kosa kata bahasa Indonsiesia yang telah kita lupakan, tetap semangat!!!


*penulis adalah Mahasiswa STAI Luqman Al Hakim dan anggota API)

Rabu, 24 Februari 2016

REMAJA


Gawat, Indonesia Darurat Moral!
 


Matahari 2016 baru beberapa bulan menyinari bumi indonesia. Namun itu sudah cukup untuk membuat masyarakat Indonesia kembali geleng-geleng kepala. Sebabnya, terkuaknya sindikat pencurian bagasi penumpang oleh petugas bandara, khususnya petugas dari maskapai lion air. Bahkan, menurut salah satu tersangka, hal tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun hingga telah melahirkan “pemain-pemain senior”. (detik.com, 7/01/2016)
Dengan terendusnya kejahatan ini, semakin membuktikan bahwa masyarakat indonesia sedang “cacat moral”. Berbagai tindak kejahatan terjadi disemua sektor. Pendidikan, kesehatan, transportasi, bahkan agama pun tak lepas dari tindakan penyelewengan. Apalagi hampir semua penyelewengan yang terkuak melibatkan banyak oknum.
Penyelewengan-penyelewengan juga tak hanya dilakukan kalangan atas atau kalangan politisi dan pejabat, namun juga rakyat biasa. Seperti sogok menyogok petugas pelabuhan, guru, bandara dan lainnya demi tujuan tertentu, sudah dianggap hal biasa. Di kalangan murid/siswa, kebiasaan contek menyontek secara massal, tawuran, bolos sekolah belum juga berhenti.
Sebenarnya, kejahatan-kejahatan tesebut adalah akibat dari terkikisnya moral masyarakat yang disebabkan jauhnya masyarakat dari agama. Masjid-masjid dan majelis agama seringkali sepi dari kaum muslim. Beda halnya dengan tempat-tempat hiburan, tempat rekreasi, pasar-pasar maupun mall yang semakin hari makin ramai. 
Lebih daripada itu, hilangnya nilai-nilai dalam masyarakat yang materialistis dan individualis, mengakibatkan ketimpangan terjadi di mana-mana. Perayaan hari-hari besar seringkali menjadi ajang “buang-buang” duit, kontras dengan kondisi masyarakat yang melarat, pengemis, pengangguran dan pengamen di bawah umur. Semangat Gotong royong yang sebenarnya adalah identitas masyarakat indonesia semakin tak mendapat tempat di hati rakyat. Di lain pihak, antara pemerintah dan rakyat terdapat jurang pemisah yang semakin dalam. Kepercayaan publik terhadap para pemimpin memudar seiring banyaknya  pelanggaran yang dilakukan kalangan atas yang seringkali dilakukan secara “berjamaah”.
Sementara itu, sekolah-sekolah di indonesia belum mampu memberi solusi dan berfungsi selayaknya. Hingga saat ini, sekolah hanya menjadi tempat tranformasi ilmu belaka, tanpa ditopang dengan nilai-nilai sosial dan agama. Juga, kurikulum yang diterapkan dibanyak sekolah negara hanya berorientasi pada aspek meteri sehingga hanya melahirkan anak-anak yang materialistik. Sehingga kesuksesan seringkali diukur dari banyaknya materi yang dimiliki. Itulah salah satu penyebab banyaknya kasus korupsi selain nafsu yang tak terbendung dan bisikan setan. Para murid juga tak dibekali dengan pengetahuan agama yang memadai.
Kemudian, kontrol keluarga dan masyarakat (sosial control) juga semakin menghilang di masyarakat. Masyarakat terkesan acuh tak acuh dengan problem yang terjadi di sekitarnya. Hal ini semakin “membebaskan” para pelaku kejahatan untuk beraksi. Masyarakat hanya akan tersentak ketika hal yang tak diharapkan terjadi.
Jika Hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka bukan tidak mungkin jika dalam beberapa tahun ke depan, bangsa ini akan semakin berbeda dan jauh dari harapan para pendahulunya. Dampaknya, indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk muslim akan kehilangan identitasnya. Padahal kaum muslimin seluruh dunia tentu berharap banyak kepada bangsa besar ini.
Maka, sebelum moral bangsa ini benar-benar hilang, perlu adanya gerakan perbaikan bangsa, terutama kalangan generasi muda bangsa ini. Alasannya simpel, karena generasi muda adalah pelanjut estafeta perjuangan bangsa. Eksis tidaknya suatu bangsa dimasa yang akan datang dapat diukur dari kualitas generasi mudanya. Artinya, Rusaknya moral generasi muda akan berakibat fatal terhadap masa depan suatu bangsa.
Perbaiki Pendidikan.!
Untuk menciptakan generasi yang baik dan juga “memutus” mata rantai mafia dan sindikat kejahatan dinegri ini, maka sektor pendidikan mesti diperbaiki. Karena dari sekolahlah akan muncul para penerus bangsa. Untuk itu, sudah saatnya pemerintah bertindak. Kurikulum untuk sekolah-sekolah  harus memperhatikan aspek spiritual peserta didiknya. Penanaman nilai-nilai agama benar-benar perlu diperhatikan. Hal ini untuk menguatkan keyakinan agama sehingga akan menjadi pencegah ketika mereka “berkesempatan” melakukan penyelewengan.  
Setelah itu,  penyeleksian pendidik (guru) di sekolah-sekolah perlu diperketat dan diseriusi, tidak hanya memerhatikan aspek kecerdasan, namun juga pengetahuan agama yang memadai. Kemudian, Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti nepotisme harus segera dihentikan. sehingga akan muncul pendidik-pendidik yang profesional dan mampu menjadi contoh bagi murid-muridnya. namun, untuk menarik minat kaum terdidik agar mau menjadi guru, pemerintah setidaknya memerhatikan “kesejahteraan” guru. Sebab, Sudah selayaknya para guru (profesional) diberi apresiasi yang besar oleh negara. Walaupun tujuan menjadi pendidik bukan untuk mencari harta atau kekayaan, namun sekali lagi, sebagai bentuk apresiasi.
Setelah dua hal diatas dapat direalisasikan, sosial control harus terjalin dengan baik. Karena bagaimanapun, diera globalisasi seperti sekarang ini, melakukan kejahatan adalah hal yang sangat mudah. Jika masyarakat tetap cuek dengan sekitarnya, kejahatan-kejahatan-sekecil apapun- akan terlihat seolah-olah mendapat pembenaran. Sehingga akan dilakukan terus-menerus dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Untuk itu, semua harus melibatkan diri, terutama “orang-orang rumah”. Alasannya, rumah adalah “sekolah pertama” bagi anak. Sehingga orang tua harus menjadi teladan dan memperhatikan moral anak-anaknya sejak dini. Ajarkan mereka tentang nilai-nilai yang baik.
Oleh karena itu, mari kita saling bergandengan tangan. Bersama, Ciptakan lingkungan yang kondusif dan jauh dari hal-hal negatif. Ciptakan hubungan harmonis dengan sekitar. Jadikan hidup kita lebih bermakna dengan kepedulian sosial. Cetak generasi penerus yang bermoral untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Wallahu a’lam bisshawab

By: Faruq
(Penulis adalah mahasiswa STAIL Surabaya semester IV juga anggota API)