TENGGELAMNYA PENGUASA YANG DURJANA
Oleh: Ashlih MS.
Ramses II
adalah Fir’aun yang memerintah pada zaman nabi Musa as. Dimana sifat Fir’aun
ini sangatlah sombong. Sangat bebeda sekali dengan Fir’aun yang memerintah
sebelumnya Raja Akhenaten, dimana raja yang satu ini masih memegang
teguh ajaran nabi Yusuf as. Yang dulu pernah memerintah Mesir. Fir’aun yang
memerintah pada zaman nabi Musa as. Adalah Fir’aun yang menganggap dirinya
sebagai tuhan dan harus disembah oleh para penduduknya. Fir,aun mengumpulkan
pembesar-pembesar dan kaumnya seraya berkata “akulah tuhanmu yang palig tinggi”
(an-Nazi’at: 24).
Pada suatu hari
Fir’aun diberitahukan oleh para peramal kepercayaannya tentang mimpi yang dia
alami di suatu malam. Para peramalnya memberitahukan bahwa akan ada seorang
bayi yang lahir adri suku Apiru yang akan menjauhkannya dari kursi
singgasananya. Itulah awal kegilaan Fir’aun untuk membunuh setiap bayi
laki-laki dari suku Apiru. Dan pada saat itu nabi Musa lahir dari rahim seorang
ibu yang bernama Yokabed. Namun bayi Musa itu selamat dari ancaman pembunuhan
Fir’aun yang keji karena sang ibu mengapungkan bayi Musa tersebut di sungai dan
sang kakak mengikutinya. Dan pada akhirnya bayi Musa yang masih merah itu pun
sampai di sungai di dekat istana kerajaan dan diketemukan oleh istri Fir’aun
yang bernama Asiyah.
Raja Fir’aun
awalnya menolak permintaan sang istri yang meminta untuk menjadikan bayi Musa
tersebut sebagai anak angkat, namun sang raja tak kuasa menolak permintaan sang
istri tercinta dan pada akhirnya sang raja pun mengabulkan permohonan sang
istri untuk mengangkat Musa sebagai anak.
Namun ambisi
Fir’aun untuk terus membunuh setiap bayi yang lahir dari kalangan Apiru masih
terus berlanjut. Hingga setelah sang nabi telah beranjak dewasa dan pada akhirnya
sang raja tahu jika bayi yang dia angkat menjadi anak lah sang musuh yang akan
menggulingkan tahtanya nanti. Akibat suatu kejadian dimana saat nabi Musa
berjalan-jalan bertemu dengan orang yang berkelahi dimana satu sisi adalah suku
Apiru dan suku yang lain adalah suku dari Fir’aun. Namun nabi Musa lebih
membela suku Apiru dan memukul suku dari Fir’aun tersebut hingga tewas. Saat
itu suku Apiru(suku tempat dimana nabi Musa dilahirkan) adalah suku yang
direndahkan derajatnya.
Fir’aun yang
sombong dan keji itu mengusir nabi Musa dari istana dan berniat mebunuhnya
karena nabi Musa as menentangnya dan tidak menganggapnya sebagai tuhan. Raja
Fir’aun mengejar nabi Musa dan pengikutnya hingga sampai di laut merah. Dan
dengan pertelongan Allah, nabi Musa dan pengikutnya dapat tiba di seberng laut
merah karena nabi Musa membelah laut merah agar dapat dilalui. Namun Fir’aun
dan pengikutnya tenggelam di dasar laut
karena belum sempat sampai di seberang laut, air yang terbelah tersebut menutup
kembali hingga menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya.
Itulah kisah
Fir’aun yang sombong dan mengaggap dirinya sebagai tuhan. Kesombongan adalah
jubah kebesaran Allah yang haram dikenakan makhluk selainnya, dan Allah akan
murka apabila ada yang berusaha merebut jubah kebesarannya.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar