Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 30 April 2016

pengalaman pribadi



DENDAM SEEKOR ANJING


Oleh: Ashlih Maulana S.

Balas dendam. Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan itu semua. Balas dendam. Merupakan sebuah perasaan ingin membalas perbuatan orang lain yang biasanya merujuk kepada hal-hal yang buruk kepada kita. Dimana kita menginginkan dia mendapatkan hal yang setimpal denag apa yang telah dia lakukan padaa kita, ataau bahkaan lebih. perasaan yang berpotensi dimilki oleh semua orang bahkan hewan sekalipun. Hewan?, ya hewan juga (menurut saya) berpotensi untuk membalas dendam.
 Dengan adanya ceritaku ini itu akan membuka mata kita semua untuk saling menghormati dan jangan mengusik ketenangan orang lain bahkan jugaa hewan. Karena hewan juga berhak untuk mendapaatkan ketenangan dan mereka juga berhak memperjuangkannya. Namaku Ashlih, and this is my story...
****
Aku tinggal di Bali selama tiga setengah tahun karena ayahku bekerja di sana. Aku mulai pindah ke Bali saat aku duduk dibangku kelas dua SD semester akhir. Bisa dibilang semester pertama aku bersekolah di desaku namun semester kedua aku pindah ke Bali.
Di tempatku tinggal di Bali ada tempat untukm aku mengaji. Yaitu TPA kecil-kecilan yang bermarkas di rumah seorang ustad yang agak jauh dari rumahku. Aku bersama teman-temanku berangkat mengaji bersama tiap sore setelah asar. Dari mulai senin hingga hari kamis. Dan setiap kali kami berangkat mengaji, kami selalu melewati rumah orang kaya yang di dalamnya ada anjing yang bisa dibilang galak. Dan kaminsemua tergoda untuk mengganggu anjing tersebut hingga anjing tersebut menyalak garang kepada kami. Yah anjing tersebut pastinya meraasa terganggu akan perlakukan kami kepadanya.
Intinya, setiap kami melewati rumah tersebut untuk mengaji ataupun untuk haal lain sekalipun, kami tidak pernah absen untuk mengganggu anjing tersebut. Bisa dibilang kegiatan tersebut merupakan kegiatan harian kami yang sulit dihilangkan. Atau itu telah menjadi kebutuhan kami secara tidaak sadar. Kami sering mengganggunya dengan ranting atau melemparinya dengan batu kerikil yang kecil. Kami kasihan jika melemparnya dengan batu yang besar. Kami kan masih punya belas kasih J
Anjing tersebut lumayan besar menurutku karena waktu itu tubuhku masih berupa tubuh anak kelas 3 SD sehingga aku melihat anjing itu bertubuh lumayan besar dan berbulu putih. Aku tidak begitu tahu apa jenisnya naamun jika dilihat lumayan seram juga. Ditambah lagi didukung dengan galaknya anjing tersebut saat menyalak. Hal itu semakin mendukung image nya sebagai anjing yang galak.
Pada suatu hari...
“ayo lempar ranting itu kearahnya!”
“rasakan itu anjing jelek!”
Guk!guk!guk!
“diam anjing bodoh, suaramu jelek sekali!”
Grrrrr, guk!guk!guk!
Saat itu aku dan teman-temanku mengganggunya lagi. Entah kemana san pemilik rumah kenapa tidak muncul-muncul juga padahal anjingnya sedang menyalak keras sekali.
“sudah ah, aku mau pulang. Ayo kita pulang, nanti pemiliknya keluar.” Ucap salah seorang temanku.
“jangan ah! Aku belum puas nih. Kalau kamu mau pulang pulang aja duluan.” Kataku.
“ya sudah kalau begitu, kami duluan.” Uacap mereka kepadaku.
Aku terus mengangganggu anjing tersebut lumayan lama. Teman-temanku yang lain telah pergi lebih dulu  meninggalkanku didepan rumah megah yang ada anjing galaknya ini. Lagi pula sepertinya aku juga terlalu lama mengganggu anjing ini. Aku ternyata sads juga.
Karena terlalu lelah aku pun meninggalkan anjing tersebut begitu saja. Yang lagi pula dia juga membutuhkan waktu istirahat untuk bernafas selsgi aku memikirkan keusilan lain yang akan aku rencanakan keesokan harinya. Tanpa kusadari bahwa besok adalah hari bersejarah bagiku yang sulit tuk kulupakan.
***
Besoknya hari Minggu...
“bagaimana?, apakah kalian sudah merencanakan hal apa yang akan kita lakukan kepda anjing itu nanti?.” Kataku kepada teman-temanku.
“tenang aku sudah bawa ini dari rumah.” Kata temanku seraya memperlihatkan ketapelnya kepadaku.
Kami bertiga, aku dan kedua temanku berencana untuk mengganggu anjing itu lagi. kami terlalu asyik bersenda gurau di jalan tanpa memperdulikan kalau ada bahaya yang menanti di depan.
Saat sudah dekat rumah megah tersebut, kami langsung kaget, karena anjing tersebut dalaam kedaan tidak terikat dan ssedang duduk di luar gerbang rumah. Sontak saja aku dan kedua temanku berhenti mendadak karena ketakutan. Kami mundur selaangkah demi selangkah dan...
Kraaak....
Tak sengaja aku mengijak ranting patah. Kami melihat anjing tersebut sadar dan menoleh ke arah kami. Kami mulai berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Anjing itu mulai mengejar kearah kami. Aku sendiri yang notabene nya berbadan agak gendut pastinya tertinggal di belakang.
Saat anjing itu sudah disampingku, anjing itu langsung menggigit pantatku setelah itu berhenti mengejar dan berbalik arah. Aku yang tahu kalau anjing itu sudah berhenti mengejar pun ikut berhenti juga. Aku merasakan sesuatu sedang mengaalir di pahaku. Ternyata darah mengalir lumayan deras dari pantatku.
Aku meminta tolong temanku untuk memeriksa kedalam celanaku. Ternyata pantat sebelah kiriku berlubang sekitar dua senti akibat gigitan anjing tersebut. Namun anehnya aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku langsung menangis melihat hal itu. Aku menganis bukan karena rasa saakit yang kurasakan. Lagi pula aku tidak meraasakan sakit apa-apa. Aku menangis karena kaget saja.
Setelah itu aku langsung diantar pulang oleh teman-temanku. Saat kedua orang tuaku tahu, aku langsung dibawa kerumah sakit untuk dijahit. Saat dipompa oleh alat, aku melihat busa atau buih yang keluar dari pantatku banyak sekali. Mungkin jika tak segera dikelurkan, aku mungkin terinfeksi rabies oleh anjing tersebut. Akupun izin sekolah selama tiga minggu sebagai proses penyembuhan. Bahkan bekas jahitan itu masih ada.
Setelah itu aku pun jadi trauma berdekataan dengan anjing. Setiap kali ada anjing di dekatku aku pun  langsung menghindar karena teringat kejadian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar